Selasa, 30 Disember 2014

KAJIAN SURAH AL-KAHFI: BENTENG PERTAHANAN IMAN

AYAT 1 – 12 [JUZ 15, SURAH KE-18]
Oleh: DR. H. Hasan Basri al-Mardawy, MAA

PENDAHULUAN
            Al-Kahfi, menurut bahasa, berarti Gua. Al-Kahfi kemudian dijadikan nama salah satu surah dalam al-Qur’an, yaitu surah ke-18, juz 18, terdiri dari 110 ayat. Kata al-Kahfi terdapat dalam ayat 9 surah ini, yang mengisahkan tentang para “Penghuni Gua”, atau dalam istilah al-Qur’an disebut Ashabul Kahfi. “Penghuni Gua” tersebut terdiri dari sejumlah pemuda dan seekor anjing. Mereka tertidur dalam gua itu selama 309 tahun. Karena keimanan mereka, Allah menjaga dan mengawasi mereka dalam tidur. Allah membimbing mereka ke jalan yang lurus, menambah hidayah-Nya dan memudahkan segala urusan mereka. Akhirnya, mereka pun selamat dari kekejaman raja yang zalim.

POKOK-POKOK ISI SURAT AL-KAHFI

1.      Keimanan
Surah al-Kahfi mengandung dasar-dasar keimanan, yaitu:
1)           Memberi motivasi bagi orang-orang beriman agar meningkatkan iman.
2)           Membentengi iman dari segala polusi duniawi.
3)           Kekuasaan Allah untuk memberi daya hidup bagi manusia di luar jangkauan akal manusia.
4)           Dasar-dasar tauhid (keesaan Allah) dan keadilan Allah. 
5)           Menerangkan tentang keluasan ilmu Allah yang tiada batas.
6)           Kepastian datangnya hari Kiamat.
7)           Al-Qur’an sebagai kitab suci yang membimbing manusia ke jalan lurus.
8)           Rumah masa depan orang beriman adalah surga Firdaus.
9)           Beramal salih tanpa unsur syirik.
10)       Hidup adalah ujian.

2.      Kisah-kisah
Surah al-Kahfi mengungkapkan beberapa kisah atau cerita penting tentang kehidupan. Dari cerita-cerita yang diungkapkan al-Qur’an dapat diambil i’tibar, mau’izhah, atau pelajaran untuk menata kehidupan yang penuh iman, ilmu, dan amal salih.  Ada lima kisah yang disajikan dalam surah ini, yaitu:
1)           Kisah Ashabul Kahfi
2)           Kisah dua orang laki-laki [kafir dan mukmin]
3)           Kisah  Nabi Musa dan Nabi Khidhir
4)           Kisah Dzulqarnain
5)           Kisah Ya’juj dan Ma’juj

3.      Hukum-hukum
Surah ini mengandung hukum-hukum sebagai berikut:
1)     Hukum wakalah (perwakilan).
2)     Hukum membangun rumah ibadah di atas kuburan.
3)     Hukum membaca kalimat Insya Allah.
4)     Hukum melakukan kesalahan karena lupa.
5)     Hukum tentang kemaslahatan sosial.

4.      I’tibar/Mau’izhah
 Beberapa pelajaran penting dapat diambil dari surah ini:
1)     Meningkatkan iman kepada Allah.
2)     Mengikhlaskan niat dalam beribadah kepada Allah.
3)     Meningkatkan semangat belajar atau menuntut ilmu.
4)     Adab belajar dan hubungan murid dengan guru.
5)     Cara memimpin dan hubungan pemimpin dengan rakyat.
6)     Perjuangan untuk kesejahteraan rakyat dan negara.
7)     Surga Firdaus sebagai tempat bagi orang beriman.
8)     Belajar tentang kesabaran dan ketaatan.
9)     Amalan orang mukmin tidak sia-sia.
10) Ilmu Allah tidak pernah habis dikaji.

Pembahasan:  Ayat 1-12

1.      Al-Qur’an: Jalan Lurus [Ayat 1-6]

1)     Al-Qur’an sebagai Bimbingan hidup
Ayat 1 menjelaskan tentang proses diturunkan al-Qur’an. Allah menerangkan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada hamba-Nya yang mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an mengandung kebenaran yang pasti; dan tidak ada sedikit pun kejanggalan dan kelemahan di dalamnya. Karena itu, al-Qur’an merupakan pedoman yang dapat membimbing manusia ke jalan yang lurus. Dengan demikian, al-Qur’an  adalah bimbingan hidup bagi orang beriman. Maskudnya adalah al-Qur’an menuntun manusia ke jalan Allah, jalan iman, hidayah, Islam, ilmu, dan amal.
  
2)     Al-Quran sebagai Peringatan
Ayat 2 menegaskan tentang fungsi al-Qur’an selain sebagai bimbingan hidup, al-Qur’an juga berfungsi sebagai peringatan yang tegas dan keras bahwa azab Allah pasti berlaku bagi orang-orang yang ingkar. Maksudnya, setiap keingkaran dan kezaliman pasti akan dijatuhi hukuman baik di dunia maupun di akhirat. Allah tidak akan membiarkan orang-orang zalim berkeliaran di muka bumi dengan melakukan kerusakan. Demikian juga ayat ini mengingatkan manusia bahwa kesombongan itu adalah suatu kezaliman; dan Allah tidak senang kepada orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.


3)     Al-Quran sebagai Khabar Gembira
Selain peringatan, ayat 2 juga menyatakan bahwa al-Qur’an adalah  pembawa berita gembira kepada orang-orang beriman. Maksudnya, al-Qur’an memberitahukan kepada manusia bahwa setiap orang yang melakukan amal salih akan diberi pahala oleh Allah. Kemudian, dalam ayat 3-6, disebutkan bahwa Allah akan menempatkan hamba-Nya yang beramal salih di dalam surga. Syarat amal salih yang dapat mengantarkan seseorang ke surga adalah amal salih yang tidak dicampur dengan unsur syirik. Oleh sebab itu, setiap orang beriman harus menjauhkan dirinya dari unsur syirik ini. Karena, setiap amal yang mengandung unsur syirik meskipun baik, akan ditolak oleh Allah; dan pelakunya adalah berdosa besar.

2.      Hidup sebagai Ujian [Ayat 7-8]
Allah menjadikan dunia sebagai perhiasan hidup dan sekaligus tantangan. Oleh sebab itu, setiap manusia pasti mempunyai naluri senang kepada kesengangan duniawi, keindahannya, dan kemewahan. Dalam konteks itulah, maka Allah menguji manusia siapa di antara mereka yang mampu mengendalikan dirinya dari pengaruh kesenangan dan kenikmatan duniawi. Manusia diuji sampai di mana keterpengaruhannya dengan kesenangan duniawi, jika ia mampu mengendalikan dirinya, dan tidak melupakan Allah dan ajaran-ajaran-Nya, maka itulah orang yang sukses dalam hidup ini. Di samping itu, meyakini bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia pasti akan sirna. Berkenaan dengan ini Allah menegaskan dalam surah al-Mulk ayat 1-2, “Maha Suci Allah yang di tangan-Nya segala kekuasaan; yang menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia mengujimu siapa yang paling bagus amalnya di ataramu, dan Dia Maha Perkasa dan Maha Pengampun.”

3.      Ashabul Kahfi: Profil Pemuda Beriman [Ayat 9]
Ayat 9 menceritakan tentang kisah sekelompok pemuda yang menyelamatkan iman mereka dari kepungan raja yang zalim. Dalam sejarah dicatat bahwa pada masa lalu sekitar tahun 326 sebelum Masehi di suatu negeri yang bernama Absus, sekaran Yordania, terdapat seorang raja yang sangat kejam, penyembah berhala. Raja itu bernama Dikyanus (Decius). Ia memaksa semua orang untuk tunduk kepadanya dan menyembah berhala seperti yang ia sembah. Namun, sekelompok pemuda yang tetap mempertahankan iman mereka meskipun diancam bunuh oleh raja. Untuk menyelamatkan iman kemudian sekelompok pemuda lari ke gunung. Karena kelelahan, sesampai di gunung, mereka beristirahat di dalam sebuah gua di bukit Raqim. Dengan kekuasaan Allah, mereka tetap bertahan di dalam gua selama 309 tahun.

4.      Do’a Ashabul Kahfi di dalam Gua (Ayat 10]
Sekelompok pemuda yang dinamakan Ashabul Kahfi itu memohon kekuatan dari Allah berupa kasih sayang (rahmat) dan bimbingan (rasyad). Do’a mereka diabadikan dalam ayat 10, yaitu:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رُشْدًا.

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan persiapkanlah kami menjadi pemuda yang cerdas sehingga kami dapat menyelesaikan segala tugas kami.”

Allah mengabulkan permohonan mereka dan mereka pun memperoleh kasih sayang dan bimbingan Allah dalam peristirahatan panjang mereka. Dengan kekuasaan Allah, mereka diberikan umur panjang sampai terjadi pergantian rejim atau kekuasaan dari raja yang zalim kepada raja yang taat kepada Allah. Pada masa raja yang taat itulah mereka dibangunkan kembali oleh Allah. Ketika mereka turun ke kota, mereka disambut baik oleh raja dan kemudian raja itu pun berjanji untuk membangun sebuah masjid sebagai prasasti di atas bukit raqim tersebut untuk mengenang kisah sekelompok pemuda itu.

5.      Bukti Kekuasaan Allah [Ayat 11-12]
Ayat 11-12 menjelaskan tentang kekuasaan Allah dalam menjaga dan mengawasi hamba-hamba-Nya. Selama dalam gua, para pemuda tersebut dikawal langsung oleh Allah. Allah memberikan daya hidup kepada mereka dan menutup telinga mereka agar tidur mereka tidak terganggu oleh suara bising dari luar. Dengan begitu, mereka pun dapat tidur nyenyak dan pulas. Dengan cara ini, Allah ingin menguji siapa di antara mereka yang paling tepat hitungannya tentang berapa lama mereka tertidur dalam gua itu. Mengenai waktu yang mereka habiskan dalam gua, mereka ternyata berbeda dalam hitungan. Ini berarti keterbatasan ilmu manusia untuk mengetahui secara pasti tentang pengalaman mereka selama dalam gua, khususnya tentang waktu yang telah mereka habiskan. Ada di antara mereka yang berpendapat, mereka berada di dalam gua hanya setengah hari saja; sementara yang lain mengatakan baru satu hari. Ini memberi pelajaran bagi manusia bahwa waktu berjalan demikian cepat; dan tidak ada yang pasti dalam perkiraan atau perhitungan manusia. Hanya ilmu Allah sajalah yang pasti. Ilmu manusia penuh dengan kemungkinan (probability) dan keraguan (doubtfulness). Wallahu a’lam! ■

http://mihrabia.blogspot.com/2010/11/kajian-surat-al-kahfi-1-12.html

Sabtu, 27 Disember 2014

Di Balik Fatwa Haram Natal Bersama

Buya Hamka bersama Ratu Alamsjah Prawiranegara

Oleh: Andi Ryansyah, Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Beberapa waktu lalu, aksi kristenisasi di Indonesia menuai berbagai kecaman dan meresahkan masyarakat, terutama umat Islam. Masih hangat di ingatan kita, seorang nenek berjilbab yang sedang berjalan kaki dalam Car Free Day (CFD), tiba-tiba dijegat dan dipaksa berdoa kepada Yesus oleh misionaris.[1] Kemudian pada kasus lain, Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) tidak menyetujui aturan Polri tentang pemakaian jilbab bagi Polwan.[2] Tampaknya kristenisasi di Indonesia bak barang bekas yang terus didaur ulang.

Sebab sejak masa penjajahan, negeri muslim terbesar di dunia ini dibidik sebagai sasaran empuk oleh Misi Kristen. Ketika penjajah Portugis berhasil menduduki Malaka, Panglima Perang Alfonso Dalbuquerque berpidato:

“Adalah suatu pemujaan yang sangat suci dari kita untuk Tuhan dengan mengusir dan mengikis habis orang Arab dari negeri ini, dan dengan menghembus padam pelita pengikut Muhammad sehingga tidak akan ada lagi cahayanya di sini buat selama-lamanya. Sebab saya yakin kalau perniagaan di Malaka ini telah kita rampas dari tangan kaum muslimin, habislah riwayat Kairo dan Mekkah, dan Venesia tidak akan dapat lagi berniaga rempah-rempah kalau tidak berhubungan dengan Portugis.”[3]

Penjajah Belanda juga sangat berambisi melakukan aksi kristenisasi. Alb C Kruyt (Tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum mengakui, “Bagaimanapun juga Islam harus dihadapi, karena semua yang menguntungkan Islam di Kepulauan ini akan merugikan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Dalam hal ini diakui bahwa kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses penjajahan dan zending Kristen merupakan rekan sepersekutuan bagi pemerintah kolonial, sehingga pemerintah akan membantu menghadapi setiap rintangan yang menghambat perluasan zending.”[4]

Pemerintah kolonial juga telah mencoba untuk mengatur perkawinan di masyarakat, yang secara langsung bersinggungan dengan umat Islam di Indonesia, sebagai mayoritas rakyat Indonesia.Pada tahun 1937, Pemerintah kolonial Belanda mencoba mengajukan undang-undang perkawinan yang mewajibkan umat Islam untuk mencatatkan pernikahannya, dan mewajibkan monogami serta melarang suami menceraikan istri secara sepihak.

Sontak undang-undang ini menuai reaksi keras dari umat Islam saat itu, sehingga pemerintah kolonial pun membatalkannya. Namun di lain sisi, sejak tahun 1933, pemerintah kolonial telah memberlakukan Undang-undang perkawinan untuk Kristen pribumi yang disebut HOCI(Huwelijkes Ordonnantie Christen Indonesiers), dan tetap dipertahankan oleh pemerintah Indonesia setelah merdeka.[5]

Momentum kristenisasi di Indonesia terjadi ketika konflik besar ideologis antara Islam bersama kaum nasionalis melawan komunisme yang diwakili Partai Komunis Indonesia (PKI). Eskalasi konflik ini mampu ditangkap pihak gereja dengan menawarkan jaminan keselamatan politik bagi mereka yang menganut Kristen. Sebagaimana diungkapkan oleh Jeff Hammond, misionaris asal Amerika Serikat yang berkarya di Indonesia.

“Setelah peristiwa G30S/PKI, terjadi masa kairos (bahasa Yunani untuk waktu kesempatan) di Indonesia sehingga dalam enam tahun (1965-1971) ada lebih dari tujuh juta orang di pulau Jawa yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Tuaian itu telah berjalan terus dan banyak gereja di mana-mana telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dan berbagai gerakan yang mulai lahir telah berdampk selama tahun 1970-1980-an.”[6]

Aksi-aksi zending dan misi Kristen kala itu dilakukan dengan memaksakan berbagai jalan serta tipu daya, seperti bujukan dengan uang dan harta, mulut manis, beras, gula-gula permen dan bonbon agar umat Islam menukar agamanya dengan agama Kristen.[7]

Upaya penyiaran Kristen atau memurtadkan umat Islam itu dengan jelas dinyatakan oleh seorang zending Kristen bernama Dr.Sijabat yang mengatakan bahwa objek yang hendak dikristenkan itu tidak lain memanglah umat Islam Indonesia sendiri.[8] Akibat kristenisasi, ketegangan antar umat Islam dan umat Kristen pun tak terhindarkan.

Di Makassar, seorang guru beragama Kristen memuntahkan kata-kata nista kepada murid-muridnya yang mayoritas muslim. Dia katakan, “Nabi Muhammad SAW adalah seorang pezina. Nabi Muhammad adalah seorang yang bodoh dan tolol. Sebab dia tidak pandai menulis dan membaca.” Akibatnya pada malam 1 Oktober 1967, beberapa gereja di Makassar dirusak dan dipecah kaca-kacanya oleh para pemuda Islam.[9] Sungguh aksi pemuda Islam ini melukai orang Kristen dan kita sesali kejadian yang tidak baik itu.

Namun Tokoh Masyumi, M.Natsir memandang hendaknya persoalan ini tidak dilihat secara symptomatis approach, yaitu dengan hanya melayani gejala yang kelihatan. Ibarat orang yang sakit malaria, kepalanya panas lantas diberi kompres dengan es, tidaklah akan menghilangkan penyakit malaria itu. Harus dicari sebab hakiki dari penyakit itu sendiri. Karena panas kepala hanya suatu gejala dari orang yang sakit malaria. Islam punya kode yang positif tentang toleransi sesama beragama yang tidak perlu dikhawatirkan oleh orang beragama lain. Tetapi kalau pihak Kristen yang unggul dalam arti materiil dan intelektuil mengkristenkan orang-orang Islam, ini melahirkan satu ekses yang serius. [10]
Apabila guru Kristen tadi tidak memancing-mancing dengan menghina Nabi Muhammad SAW di depan murid-muridnya yang kebanyakan muslim, tentu umat Islam tidak akan merusak gereja-gereja itu. Kalau merusak gereja, memang ajaran Islam, sudah lamalah beratus-ratus gereja di Makassar dirusak. Namun puluhan tahun sebelum pemuda tadi merusak, telah banyak gereja-gereja berdiri di tengah kota Makassar.

Kemudian aksi kristenisasi di Meulaboh, Aceh yang 100% penduduknya Islam, kaum Kristen mendirikan gereja. Di Toba, mereka berpindah ke daerah kampung-kampung orang Islam, lalu mereka melepaskan babi dan membakar anjing untuk dimakan. Lantaran merasa jijik, orang Islam itu lari meninggalkan kampung halamannya. Akibatnya, langgar-langgar menjadi sepi, dan gereja-gereja banyak berdiri.

Di Sumatera Barat, ratusan orang zending Kristen berkedok jadi penjual kain. Lalu terjadi kekacauan –kekacauan yang tidak diinginkan. Akhirnya, pemerintah daerah terpaksa mempersilahkan mereka pulang saja ke kampung halamannya.

Di Bukittinggi, dengan topeng mendirikan rumah sakit, mereka mempropagandakan agama Kristen. Masyarakat Bukittinggi yang dipimpin ninik-mamak dan ulama keberatan dengan hal itu. Kemudian menteri agama melarang pembangunan gereja di dalam rumah sakit itu demi menjaga keamanan.
Setelah keluar larangan Menteri Agama, tiba-tiba dalam masa beberapa Minggu saja, keluarlah maklumat dari pihak Tentara di Bukittinggi, bahwa tentara mengizinkan Baptist membangunan rumah sakit dengan segala fasilitasnya, termasuk gereja, di atas tanah milik militer. Jelas sekali bahwa Baptist yang dipimpin oleh warga negara Amerika itu telah mengadu domba Kementerian Agama dan Militer.

Kemudian di Pulau Banyak. Sudah puluhan tahun orang Aceh di Pulau Banyak dan orang Nias di Pulau Nias hidup berdampingan secara damai. Banyak orang Nias yang beragama Kristen datang ke Pulau Banyak, mencari penghidupan di sana. Dan tidak ada gangu mengganggu.

Namun, program zending dan misi mengacaukan kedamaian itu. Akibatnya, kedatangan mereka menjadi agresif. Mereka menyerbu wilayah Pulau Banyak dan memaksakan kehendak untuk mendirikan gereja di atas tanah umat Islam yang jumlahnya 90% itu. Mereka seakan-akan menjadi tuan di pulau itu.

Ulama Besar Aceh, Teungku Daud Beureueh lalu menegur cara curang mereka. Kemudian ributlah surat-surat kabar Kristen memutar balikkan duduk persoalan. Mereka kampanye bahwa orang-orang Aceh mengusir orang-orang Kristen dari Aceh. Di Ambon, kaum Kristen leluasa membakar kedai-kedai dan toko-toko orang Islam. Di Flores, beberapa pemimpin dan pemuka Islam hilang.[11]
Ketegangan juga terjadi di pemerintahan. Menghadapi wabah kristenisasi tadi, pada tahun 1967, Presiden Soeharto menganjurkan pemimpin-pemimpin agama mengadakan musyawarah untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Dibuatlah oleh Presiden Soeharto sebuah piagam yang isinya mengatur pelaksanaan dakwah agar tidak terjadi bentrokan.

Di antara draft konsep piagam itu disebutkan agar penyebaran satu agama tidak ditujukan pada orang yang telah menganut agama lainnya. Dan supaya bantuan-bantuan untuk organisasi agama yang datang dari luar negeri, diketahui oleh pemerintah.

Kedua isi piagam itu disebabkan oleh propaganda Kristen yang selalu ditujukan pada orang Islam. Sehingga orang Islam merasa resah dan terganggu oleh propaganda itu. Juga karena dana propaganda Kristen masuk ke Indonesia dari sumber-sumber di luar negeri yang berlimpah tanpa sepengetahuan pemerintah.

Namun, pihak Kristen dengan sangat arogan menolak piagam itu. Mereka dengan terus terang mengatakan penyebaran agama Nasrani kepada orang Islam adalah sebagai missi suci.
M. Natsir yang turut hadir dalam musyawarah itu kemudian menyatakan bahwa bagi umat Islam, dakwah Islam juga suatu missi yang suci.

“Kalau orang Kristen karena missinya tak mau tunduk aturan, kami pun boleh melakukannya. Kalau kami mati untuk itu, kami syahid, akan tetapi negara dan bangsa Indonesia akan hancur,” tangkis perdana menteri pertama Indonesia ini.

Karena musyawarah tak bisa diteruskan. Akhirnya Menteri Agama Alamsyah berdasarkan pada seruan Presiden Soeharto itu, mengeluarkan dua buah Surat Keputusan yang bernomor 70 dan 77. Kedua surat keputusan menteri agama itu berisi peraturan penyebaran agama. Masing-masing orang tidak boleh dengan secara leluasa memurtadkan orang dari agama yang telah dianutnya apalagi dengan bujukan uang dan beras.

Tidak boleh pula ada bantuan luar negeri kepada badan-badan agama, kecuali dengan izin pemerintah. Surat keputusan menteri agama itu disetujui oleh Presiden Soeharto dan anggota-anggota kabinet seluruhnya. Namun pihak Kristen dan Katholik menentangnya dengan keras.

Semua organisasi Kristen mengeluarkan bantahan. Dewan Tertinggi Gereja Katholik dan Protestan mengeluarkan buku putih menuduh Menteri Agama Alamsyah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Koran-koran mereka setiap hari melancarkan kritik kepada menteri agama. Meskipun demikian pemerintah Indonesia, terutama Soeharto sendiri menyatakan bahwa surat keputusan menteri agama itu juga keputusan pemerintah.

Mendengar keputusan pemerintah itu, orang Kristen dan Katholik untuk sementara waktu berdiam diri. Akan tetapi dengan secara rahasia mereka mengatur siasat. Mereka memanggil ahli-ahli hukum Kristen untuk menyusun konsep menuntut Menteri Agama Alamsyah ke muka mahkamah. Kemudian mereka mengadakan kampanye secara besar-besaran menyambut hari “Hak Asasi Manusia” yang jatuh setiap tanggal 10 Desember.

Menurut pihak Kristen, Menteri Agama Alamsjah telah melanggar HAM. Puncak dari kampanye menentang agama itu pada waktu hari Natal saat itu.[12]

Setahun kemudian, pada tahun 1968, dalam pidato di muka DPR-GR, Soeharto sekali lagi memberikan peringatan. Beliau tegaskan,” Oleh karena itu praktik-praktik penyebaran agama dengan paksaan atau tipu daya adalah bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Orang yang merasakan bahwa agamanya terdesak, sebenarnya orang yang lemah imannya dan kurang mengamalkan ajaran agama itu sebaik-baiknya.”[13]

Demi menjaga stabilitas antar umat Islam dan Kristen, muncul perintah yang menggelikan dari beberapa orang Kepala Jawatan dan juga beberapa orang Menteri Kabinet Pembangunan, yaitu menyatukan peringatan hari lebaran idul fitri dan natal menjadi lebaran natal.

Seperti diketahui, tahun 1968 adalah tahun yang unik di Indonesia. Sebab umat Islam berhari raya idul fitri sampai dua kali, yaitu 1 Januari dan 21 Desember 1968. Secara panjang lebar, dalam buku Dari Hati ke Hati Tentang:Agama,Sosial-Budaya, Politik, Buya Hamka mengisahkan situasi saat itu:
Dalam sambutan peringatan hari lebaran natal itu, Kepala Jawatan atau Menteri, atau Jenderal menyampaikan demi kesaktian Pancasila yang wajib kita amalkan dan amankan dalam lebaran natal ini, kita menanamkan dalam hati kita sedalam-dalamnya tentang arti toleransi. Dan diaturlah acara mula-mula membaca Al-Qur’an oleh seorang pegawai yang pandai mengaji.

Kemudian diiringi oleh seorang pendeta atau Pastor yang sengaja diundang, dengan membacakan ayat-ayat injil, terutama yang berkenaan dengan kelahiran ‘Tuhan’ Yesus. Yesus Kristus Juru Selamat Dunia, Anak Alah yang Tunggal, tetapi dia sendiri adalah Alah Bapak juga, menjelma ke dalam tubuh Santa Maria yang suci, untuk kemudian lahir sebagai manusia.

Tentu saja yang lebih banyak hadir dalam pertemuan lebaran natal itu adalah orang-orang Islam daripada orang-orang Kristen. Orang Islam diharuskan mendengarkan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Alah beranak, dan Yesus ialah Alah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad SAW dengan tenang. Padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah Nabi, melainkan penjahat. Dan Al-Qur’an bukanlah kitab suci, melankan buku karangan Muhammad saja.

Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan Al-Qur’an, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Alah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima. Kemudian datanglah komentar dari protokol, bahwa semuanya itulah yang bernama toleransi, demi kesaktian Pancasila!

Dan sebagai penutup disuruh kemuka seorang Kyai membaca do’a, seluruh hadirin yang Islam membaca amin. Pihak Kristen duduk berdiam diri, dan kita tahu apa yang terasa dalam hatinya, yaitu muak dan mual. Kemudian naik pula yang pendeta menyebut do’a-do’a hari natal. Dan semua orang Islam berdiam diri saja, dan kita pun tahu apa yang ada dalam hati mereka.

Pada hakikatnya, mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keteragan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau tidak diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi.

Sementara sang Pastor dan Pendeta menerangkan dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus. Telinga orang islam muntah mendengarkan.

Bertambah mendalam orang-orang beragama itu meyakini agamanya, bertambah muntah telinganya mendengarkan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan pokok akidah agamanya.
Pimpinan Pusat Ikatan Pemuda Muhammadiyah sudah menjelaskan bahwa do’a bersama dalam hari-hari peringatan, tidaklah dibolehkan dalam ajaran Islam. Do’a demikian pun tidak akan dapat diterima karena do’a adalah ibadah dan ada sendiri ketentuannya. Orang Islam meminta kepada Tuhan Allah yang satu, yang tidak ada syarikat bagi-Nya. Sedankan Pastor dan Pendeta akan berdo’a kepada Alah Bapak, Alah Putera, dan Alah Roh Kudus.

Semangat toleransi yang sejati dan logis ialah ketika orang Islam berdo’a, orang Kristen meninggalkan tempat berkumpul. Dan ketika Pastor berdo’a kepada Tiga Tuhan, orang Islam keluar.” [14]

Dalam sebuah khutbah Jum’at di Masjid Agung Al-Azhar, Buya Hamka mengingatkan,” Haram hukumnya bahkan kafir bila ada orang Islam menghadiri upacara natal. Natal adalah kepercayaan orang Kristen yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah aqidah mereka. Kalau ada orang Islam yang turut menghadirinya, berarti dia melakukan perbuatan yang tergolong musyrik. Ingat, dan katakan pada kawan-kawan yang tidak hadir di sini. Itulah aqidah tauhid kita,” tegasnya dengan suara lantang.[15]

Itulah sikap Buya Hamka mengenai lebaran natal ini, yang berlanjut menjadi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang ketika itu Buya Hamka sendiri menjadi ketuanya, bahwa natal dan idul fitri bersama haram hukumnya. Pemerintah melalui Menteri Agama Alamsyah lalu meminta supaya fatwa itu dicabut. Namun Buya Hamka memilih meletakkan jabatannya sebagai Ketua MUI. Bagaimana sebenarnya Buya Hamka menghadapi permintaan pemerintah sampai akhirnya mengundurkan diri sebagai Ketua MUI?

Berikut penuturan anaknya, Rusydi Hamka dalam buku yang berjudul Pribadi dan Martabat Buya Prof.Dr.Hamka:

Setelah ayah bersama pimpinan harian MUI menghadiri pertemuan dengan Menteri Agama Alamsyah di Departemen Agama, baju kaos Ayah agak basah karena keringat dan wajahnya tampak murung. Berceritalah dia tentang kehebohan fatwa MUI. ‘Ada ketegangan antara MUI dengan Menteri Agama, tapi tadi bisa didinginkan… Tampaknya MUI akan sulit mengeluarkan fatwa-fatwa lagi nanti.’
Tiba-tiba saat kami sedang berbicara, Sekretaris Harian MUI Mas’udi masuk. Setelah duduk mendengarkan cerita ayah dan saya, Mas’udi dengan wajah sedih bercerita bahwa dia telah menerima surat keputusan, dia ditarik dari kedudukannya sebagai sekretaris MUI gara-gara menyiarkan fakta itu.
Ayah terkejut mendengarnya. Setelah melihat surat itu, dia lalu menyuruh saya membacanya keras-keras.

Tiba-tiba ayah berdiri, mengambil telepon minta bicara dengan Menteri Agama. Jawabannya beliau tidak ada di tempat.

‘Kalau begitu saya mau bicara dengan Sekjen,’ ujar ayah lagi.
Setelah menunggu beberapa saat, telepon pun tersambung dengan Pak Sekjen Ali Siregar. Saya tak tahu apa jawanban dari Sekjen Departemen Agama itu di seberang sana, yang saya dengar ialah suara ayah karena saya berada di situ.

‘Saudara kan tahu, soalnya sudah selesai, saya sudah bilang tadi kepada Menteri bahwa beredarnya fatwa itu adalah tanggung jawab saya. Dan saya pun sudah menyatakan bahwa sayalah yang menerima akibat peredaran itu.’
Telepon diletakkan dengan keras, lalu ayah kembali ke tempat duduknya dengan menggelengkan kepalanya.
‘Apa jawabannya?’tanya saya
‘Perintah dari atas,’
Menyusul Pak Hasan Basri masuk ruangan. Merek masih menceritakan pertemuan dengan Menteri dan soal Mas’udi. Ayah dengan suara mantap berkata ‘Hati saya sudah patah.’
Kemudian Ayah mengalihkan pembicaraan. Dia menyuruh saya jam itu menemui Duta Besar Irak. ‘Bilang padanya supaya undangan ke Irak diundur bulan depan. Tiketnya dibatalkan saja. Kalau dia bertanya alasan pengunduran, bilang saja ayah sakit,’ Saya pun berangkat mengikuti perintahnya.
Hari-hari berikutnya saya membaca pernyataan Majelis Ulama yang ditandatangani oleh Ayah sebagai Ketua Umumnya dengan Sekretaris Jenderal Burhani Tjokrohandoko yang mencabut beredarnya fatwa Majelis Ulama soal natal itu.
Tapi besoknya saya disuruh mengantar release yang dibuat atas nama pribadi ayah sendiri ke koran-koran , isinya menegaskan bahwa pencabutan itu tidak berarti bahwa fatwa itu batal. Fatwa itu sah, yang dicabut hanyalah peredarannya.
Tanggal 18 Mei 1981, ketika saya sedang bekerja di kantor Panji Masyarakat. Ayah menelpon menyuruh saya datang. Sehari sebelumnya ayah baru kembali dari Medan. Saya kira bakal ada oleh-oleh dari Medan untuk cucu-cucunya. Tapi saya dapati ayah sedang duduk menghadapi mesin tiknya. Dia tersenyum ke arah saya, ‘Ayah sudah mengambil keputusan.’
Saya tahu keputusan itu ialah yang menyangkut Majelis Ulama, tapi saya belum tahu bagaimana cara yang bakal di tempuhnya.
‘Sebentar lagi ada rapat pimpinan harian di kantor Majelis yang baru di Istiqlal. Inilah rapat pertama di kantor itu dan ini pula pertama kali ayah melihat kantor itu. Tapi kedatangan ayah ke sana juga untuk terakhir kalinya,’ ujarnya dengan wajah berseri-seri.
‘Jadi ayah sudah berhenti?’ tanya saya mengingatkan saran-saran yang melarang dia berhenti.
‘Soalnya sudah lain, sadang lamak beranti (sedang enak berhenti),’ katanya dengan nada humor. Tapi jelas dari wajahnya bahwa dia merasakan bahagia pagi itu. Saya tak dapat menahan haru, lalu saya merangkulnya. Saya menangisinya dan ayah menenangkan saya. Setelah menuntun tangannya ke kursi, ayah bercerita tentang Imam Malik pada saya.
Saya kembali ke meja tulis membaca selembar surat di atas meja yang baru saja selesai dikarangnya. Dan ayah sudah siap hendak ke Masjid Istiqlal membawa dan akan membacakan surat itu. Inilah bunyinya:

Bismillahir Rahmaanir Rahim

Menteri Agama H.Alamsyah dalam pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia tanggal 23 April 1981 yang lalu telah menyatakan kecaman atas tersiarnya fatwa MUI. Dalam kecamannya itu H. Alamsyah telah menunjukkan kemarahannya dan menyatakan ingin mengundurkan diri dudukannya sebagai Menteri Agama.
Menjawab ucapan-ucapan Menteri, maka saya mengatakan:Bukan Beliau, tapi sayalah yang lebih patut meletakkan jabatan sebagai Ketua MUI. Dan saya bertanggung jawab atas tersiarnya Fatwa yang membuat Menteri Agama mau mengundurkan diri itu.
Karena anggapan bahwa Majelis Ulama masih diperlukan adanya di Indonesia dan demi mengamankan kehidupannya setelah keberhentian saya, maka saya pun menandatangani surat Keputusan Pencabutan peredaran itu dengan pengertian bahwa nilai Fatwa itu tetap shah sebagaimana yang telah diputuskan oleh Majelis Ulama Komisi Fatwa.
Saya merasa perlu menyiarkan pernyataan pribadi akan shahnya isi Fatwa tersebut, sebagaimana telah dimuat oleh sementara surat-surat kabar. Namun demikian saya berharap pula kerja sama yang lebih baik antara ulama dan umara untuk masa-masa yang akan datang, terutama melalui pimpinan Majelis Ulama setelah saya meletakkan jabatan.
Dengan ini saya meletakkan jabatan saya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia di hadapan rapat ini, karena saudara-saudaralah yang memilih saya melalui Munas MUI tahun 1980 yang lalu. Terimakasih.
Jakarta, 18 Mei 1981
(Hamka)[16]
“Kami ini bagaikan kue bika, dibakar antara dua bara api yang panas, di atas pemerintah dan di bawah umat,” ucap Buya Hamka dalam pidato pelantikannya sebagai Ketua MUI di Gedung Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia pada 27 Juli 1975.[17]
“Kue bika” itu begitu teguh berjuang. Alangkah bebas dan merdeka jiwanya. Betapa mantap pada diri sendiri dan yakin pada jalan hidup yang telah dipilihnya. Sungguh tak bersyukur bila kini kita khianati fatwanya.

Catatan Kaki
[1] Lihat https://www.youtube.com/watch?v=QUw11Tk6VnU
[2] www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/12/ngghxd-ketua-pgi-tak-setuju-penerapan-jilbab-bagi-polwan
[3] Dikutip Buya Hamka, Dari Hati ke Hati Tentang:Agama,Sosial-Budaya, Politik, Pustaka Panjimas:Jakarta, 2002, hlm.104 dari K M Panikkar, Asia and Western Domininge terjemahan bahasa Arab hlm. 42-1968
[4]Kata Pengantar Adian Husaini dalam Susiyanto, Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa, Cakra Lintas Media:Jakarta, 2010, hlm x yang dikutip dari Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES:Jakarta, 1985, hlm. 26
[5] Mujiburrahman, Disertasi Feeling Threatened: Muslim-Christian Realtions in Indonesia’s New Order, ISIM Amsterdam University Press:Leiden, 2006
[6] Jeff Hammond, Transformasi-Kairos Bagi Indonesia dalam Niko Njotohardjo (et.al), Transformasi Indonesia; Pemikiran dan Proses Perubahan yang Dikaitkan dengan Kesatuan Tubuh Kristus, Metanoia:Jakarta, 2003, hlm.26 dalam Arif Wibowo, Kristenisasi Indonesia dari Masa ke Masa, INSISTS:Jakarta, 2014, hlm.7
[7] Buya Hamka, Dari Hati ke Hati Tentang:Agama, Sosial-Budaya, Politik, Ibid, hlm.165
[8] Hamka, Umat Islam Menghadapi Tantangan Kristenisasi dan Sekularisasi, Pustaka Panjimas:Jakarta, 2003, hlm.1
[9] Buya Hamka, Dari Hati ke Hati Tentang:Agama ,Sosial-Budaya, Politik, Ibid, 159
[10] M.Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia, Peladjar dan Bulan Sabit:Bandung, 1969, hlm. 189
[11] Buya Hamka, Dari Hati ke Hati Tentang:Agama ,Sosial-Budaya, Politik, Ibid, 165-167
[12] Hamka, Umat Islam Menghadapi Tantangan Kristenisasi dan Sekularisasi, Ibid, hlm. 55-58
[13] Buya Hamka, Dari Hati ke Hati Tentang:Agama ,Sosial-Budaya, Politik, Ibid, 168
[14] Buya Hamka, Dari Hati ke Hati Tentang:Agama ,Sosial-Budaya, Politik, Ibid, hlm.208-210
[15] Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof.Dr. Hamka, Pustaka Panjimas:Jakarta, 1981, hlm. 192
[16] Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof.Dr. Hamka, Ibid, hlm.193-196

[17] Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof.Dr. Hamka, Pustaka Panjimas:Jakarta, 1981, hlm. 181

https://www.islampos.com/di-balik-fatwa-haram-natal-bersama-154351/

Isnin, 20 Oktober 2014

KISAH WALI

TUKKU PALOH atau nama sebenarnya Sayid Abdul Rahman bin Muhammad Al Idrus adalah ulama kerohanian yang berkecimpung dalam bidang pentadbiran dan diplomatik di Terengganu. Beliau hidup dalam zaman pemerintahan lapan orang sultan silih berganti; paling lama dan paling kuat pengaruh beliau ialah semasa pemerintahan Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu ke-11. Kerana kewibawaannya, beliau diberi mandat oleh Sultan mentadbir kawasan Paloh dan mengawasi kawasan Hulu Terengganu. Beliau juga diterima sebagai penasihat pertama dan utama kepada Sultan dalam berbagai persoalan. Beliau tegas dan pintar dalam bidang diplomatik, dan sering diberi peluang mewakili Sultan berunding dengan pihak British sehingga pada zaman itu British gagal menjajah Terengganu.

Tukku Paloh terkenal sebagai seorang wali ALLAH yang mempunyai berbagai karamah dan sentiasa mendapat bantu-an ALLAH SWT khususnya sewaktu mengendalikan urusan rakyat. Tukku Paloh adalah khalifah Tareqat Naqsyabandiah, dan beliau turut mengamal dan mengembangluaskan ‘Syahadat Tukku’, satu amalan yang disusun oleh ayahnya Tukku Tuan Besar.

“Kalau untuk mencampuri urusan pentadbiran kami, saya menolak walau atas alasan apa sekalipun,” kata Tukku Paloh. Tetapi, kalau hendak tanah, silakan. Isilah ke dalam armada tuan sebanyak mana pihak British mahu… ambillah tanah.”

Itulah jawapan Tokku Paloh kepada wakil British, semasa berlaku perundingan antara pihak British dengan Tokku Paloh yang mewakili kerajaan Negeri Terengganu. Jawapan dalam bentuk sindiran itu, yang diluahkan dengan tenang tapi tegas, ternyata menyakitkan hati wakil-wakil British itu. Mereka ba-ngun untuk beredar. Tetapi, dengan kuasa ALLAH, punggung mereka tidak semena-mena terlekat di kerusi. Apabila mereka mengangkat punggung, kerusi turut terangkat sama buat se-ketika sebelum jatuh ke lantai. Waktu itu Tukku Paloh bersuara secara bersahaja: “Sudahlah tuan-tuan hendak ambil tanah Terengganu, kerusi rumah saya pun tuan-tuan hendak ambil.”

Demikianlah gagalnya diplomasi British untuk menjajah Terengganu pada sekitar awal abad ke-20. Taktik diplomasi yang berjaya digunakan di beberapa negeri lain, gagal di Terengganu kerana adanya gandingan rapat antara ulama dan umarak (pemerintah). Tegasnya, antara Sayid Abdul Rahman Al Idrus atau Tukku Paloh, dengan Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu ke-11 (memerintah 1881-1918).

Dilahirkan pada tahun 1817 (1236 Hijrah) di Kg.Cabang Tiga, Kuala Terengganu, Tukku Paloh adalah nasab ke-32 daripada Rasulullah SAW di kalangan keluarga Al Idrus. Nasab sebelah bapanya sampai kepada Sayidina Hussein r.a. anak Sayida-tina Fatimah Az Zahrah r.ha. binti Rasulullah. Ibunya, Hajah Aminah, ialah isteri pertama daripada beberapa orang isteri Sayid Muhammad yang terkenal dengan gelaran Tukku Tuan Besar. Semasa pemerintahan Sultan Omar, Tukku Tuan Besar menjadi Syeikhul Ulama iaitu ketua seluruh ulama Terengganu, dan dianugerahkan gelaran Paduka Raja Indra oleh baginda Sultan. Kedua-dua kedudukan itu menjadikan Tukku Tuan Besar sangat dihormati dan berpe-ngaruh di kalangan istana dan rakyat keseluruhannya.

Sebagai seorang ulama yang bertanggungjawab dan berpengaruh, Tukku Tuan Besar berusaha sehingga terlaksana hukum-«iukum Islam secara meluas dalam sistem pentadbiran dan kehidupan di bawah pemerintahan Sultan Omar (memerintah 1839-1875), hingga Terengganu terus terkenal sebagai negeri yang berpegang teguh dengan Islam, di sekitar pertengahan abad ke-18 Masihi. Menyedari pentingnya penyebaran ilmu agama dan bim-bingan amal, maka Tukku Tuan Besar mendirikan masjid di Kampung Cabang Tiga. (Masjid ini kini telah diubahsuai dan meriah dengan ahli jemaah). Di sinilah Tukku Tuan Besar yang juga pengarang beberapa buah kitab itu menyebarkan ilmu dan tarbiah kepada ramai anak muridnya dan anak-anaknya sendiri termasuk Sayid Abdul Rahman (Tukku Paloh). Dengan itu nyatalah Tukku Paloh itu bukan saja berke-turunan Rasulullah SAW yang mulia malah mendapat didik-an dan asuhan dalam keluarga yang kuat beragama. Semua adik-beradiknya juga mempunyai keahlian dalam hal-ehwal agama dan di antara yang terkenal ialah Sayid Zain (dilantik menjadi Menteri Besar pada tahun 1864 oleh Sultan Omar), Sayid Ahmad (bergelar Tuan Ngah Seberang Baroh) dan Sayid Mustaffa (seorang ulama yang juga ahli Majlis Mesyuarat Negeri; merupakan salah seorang dari empat pembesar yang pernah diwakilkan memegang pemerintahan negeri sewaktu Sultan Zainal Abidin HJ. melawat Siam pada Ogos 1896 selaku tetamu Raja Siam).

Di kalangan adik-beradiknya, Tukku Palohlah yang paling masyhur dan mempunyai banyak keistimewaan yang luar biasa. Menurut cucunya Sayid Abdul Aziz, sejak kecilnya lagi sudah ada tanda-tanda pelik yang mengisyaratkan Tukku Paloh akan muncul menjadi orang penting masyarakat. Satu ketika semasa Tukku Paloh berada bersama ayahnya Tukku Tuan Besar, tiba-tiba saja Tukku Paloh melihat seorang yang berserban dan berjubah hijau memanggilnya. Tukku Tuan Besar menahannya seraya berkata, “Engkau jangan pergi dekat orang itu, nanti engkau tidak boleh bersama abah lagi.”

Perkataan Tukku Tuan Besar itu tidak begitu pasti apa maksudnya. Tetapi yang nyata, Tukku Tuan Besar juga seorang yang kasyaf; dapat melihat kemunculan seorang yang berserban dan berjubah hijau itu. Siapa orangnya? Wallahu a’lam. Tukku Paloh mendapat didikan awal daripada ayahnya sendiri dan beberapa orang ulama tempatan. Kemudian beliau mengikut jejak ayahnya mendalami ilmu dan meluaskan pe-ngalaman di Makkah Al Mukarramah. Di sana beliau belajar dengan ulama-ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah, dan khatam banyak kitab muktabar dalam berbagai bidang ilmu- tauhid, feqah, tasawuf, tafsir, nahu, saraf dan lain-lain.

Tukku Paloh sangat arif tentang ilmu tasawuf dan ilmu tareqat. Malah beliau ada mengarang kitab dan risalah mengenai persoalan kerohanian. Setelah lebih 10 tahun di Makkah, Tukku Paloh pulang sebagai seorang ulama besar. Beliau seorang yang warak dan terkenal sebagai pemimpin kerohanian yang mengembangkan Tareqat Naqsyabandiah. Beliau adalah khalifah tareqat ini. Sepulangnya dari Makkah, Tukku Paloh terus mengajar di masjid peninggalan ayahnya di Kampung Cabang Tiga, Kuala Terengganu. Ini merupakan langkah awal beliau berkhidmat kepada orang ramai, sebelum melangkah kepada kegiatan yang lebih mencabar, bukan saja dalam bidang pengajaran ilmu tetapi juga dalam bidang pentadbiran, pemerintahan dan jihadnya menentang mungkar dan penjajah British. Seperti juga ayahnya, Tukku Paloh seorang yang sangat berpengaruh di kalangan istana dan menjadi tempat rujuk sultan. Malah perlantikan sultan itu sendiri mempunyai kaitan rapat dengan pengaruh Tukku Paloh di kalangan istana, yang diwarisi daripada ayahnya Sayid Muhammad bin Zainal Abi-din, yang terkenal dengan panggilan Tukku Tuan Besar, juga merupakan tokoh agama yang amat terkenal dan pengarang kepada lebih kurang 16 buah buku agama dan nazam.

Hubungan Tukku Paloh dengan sultan ini boleh disamakan dengan hubungan antara Sultan Zainal Abidin I (memerintah 1725-1734) dengan seorang lagi ulama besar Terengganu, Syeikh Abdul Malik bin Abdullah. Ulama yang terkenal dengan gelaran Tuk Pulau Manis ini juga dikenali sebagai wali ALLAH, dan banyak mengarang kitab. Sebagai Syeikhul Ulama dan mufti, Tuk Pulau Manis amat berpengaruh di kalangan istana dan dikatakan bertanggungjawab atas pertabalan Sultan Zainal Abidin I yang kemudian menjadi me-nantu beliau.

Menyedari peri pentingnya pemerintahan raja yang adil yang berlunaskan hukum-hukum ALLAH SWT, Tukku Paloh bersama Sayid Abdullah (Menteri Besar ketika itu) mengetuai sokongan terhadap perlantikan Tengku Zainal Abidin sebagai Sultan Terengganu menggantikan Sultan Ahmad Shah II (memerintah 1876-1881). Sokongan dua orang yang berpengaruh ini sungguh berkesan sehingga Sultan Zainal Abidin kekal sebagai raja yang berjaya menegakkan pemerintahan yang kukuh dan berma-ruah walaupun usianya ketika mula memegang tampuk pemerintahan negeri baru 16 tahun. Kejayaan baginda itu adalah berkat mendampingi serta menerima keputusan ulama. Baginda memerintah selama kira-kira 36 tahun 11 bulan hingga ke akhir hayatnya pada tahun 1918. Ketika Sultan Zainal Abidin III mula naik takhta, Tukku Paloh belum menjawat apa-apa jawatan penting secara ras-mi. Tetapi sebagai seorang tokoh agama, beliau sudah berpengaruh di kalangan istana. Kemudian beliau menjadi Syeikhul Ulama (ketua ulama) Terengganu dan dilantik sebagai ahli Majlis Mesyuarat Negeri dalam kerajaan Sultan Zainal Abidin. Dengan kedudukan itu Tukku Paloh bertanggungjawab membantu kerajaan mentadbir negeri dan rakyat.

Bagaimanapun, ulama dan ahli tareqat yang arif perjalan-an rohani ini lebih banyak berhubung secara peribadf dalam berbagai-bagai hal dengan Sultan Zainal Abidin. Keistimewaan ini menjadikan Tukku Paloh sebagai penasihat Sultan dan orang yang bertanggungjawab di belakang keputusan-keputusan yang dibuat oleh Sultan dalam pelbagai perkara terutamanya mengenai dasar luar negeri. Ini terbukti dengan keputusan berani Tukku Paloh memberi perlindungan kepada pahlawan-pahlawan Pahang sekitar tahun 1894 dan keengganannya bekerjasama dengan pihak British. Pendirian beliau ini mempengaruhi sikap Sultan Zainal Abidin (kebetulan menantu kepada Sultan Ahmad Pahang) untuk terus-menerus menentang pertapakan British di Terengganu.

Penglibatan Tukku Paloh dalam perjuangan menentang campurtangan British di Pahang berlaku apabila pahlawan-pahlawan Pahang yang memberontak terpaksa berundur akibat tekanan hebat daripada pihak berkuasa. Mereka yang di-pimpin oleh Datuk Bahaman, Tuk Gajah dan anaknya Mat Kilau berada dalam keadaan serba salah dan hampir-hampir putus asa. Akhirnya pada bulan Mei 1894, mereka membuat keputusan menghubungi Tukku Paloh. Ternyata hubungan ini memberi nafas dan tenaga baru kepada perjuangan mereka kerana Tukku Paloh bukan saja bersimpati malah bersedia membantu pahlawan-pahlawan itu menentang pencerobohan British di Pahang. Selama berada di Paloh, pahlawan-pahlawan yang terkenal hebat itu menggunakan sepenuh kesempatan menuntut ilmu agama dan mendalami perjalanan rohani sebagai bekalan dalam perjuangan yang amat sukar itu. Mereka ber-guru dengan Tukku Paloh. Kemudian baru Tukku Paloh menyeru pahlawan-pahlawan itu supaya melancarkan perang jihad. Sebagai bekalan rohani, beliau memberi mereka wirid-wirid dan jampi-jampi tertentu dan menghadiahkan mereka pedang yang bertulis ayat-ayat Al Quran pada matanya. Dan dengan sokongan dan pengaruh Tukku Paloh, pasukan pahlawan itu semakin besar dan mendapat sokongan sultan dan rakyat Terengganu untuk melancarkan serangan tahap kedua berdasarkan kecintaan kepada agama dan tanahair dengan semboyan ‘perang jihad’.

Semangat perang jihad begitu ketara sekali di kalangan para pejuang itu. Ketika inilah, Hugh Clifford, Residen British di Pahang, menyedari bahayanya pahlawan-pahlawan itu berada di negeri jiran kerana mendapat sokongan Tukku Paloh untuk me-lancarkan serangan baru dengan kekuatan agama. Demi menjaga kepentingan British di Pahang, pada bulan April 1895 Clifford mengetuai satu angkatan seramai 250 orang untuk melumpuhkan kekuatan pihak yang disifatkannya sebagai pemberontak-pemberontak. Sesampai di Terengganu, Clifford mengadap Sultan Zainal Abidin untuk mendapat kerjasama baginda. Sultan Zainal Abidin dengan senang hati mengeluarkan surat kuasa (waran) kepada Clifford untuk menangkap sesiapa saja daripada kalangan rakyat baginda yang bersubahat dengan pemberontak-pemberontak. Tetapi surat itu tidak memberi kuasa untuk menyiasat kerabat diraja, keluarga Sayid serta pembesar-pembesar baginda.

Baginda juga mengeluarkan satu surat sulit kepada orang-orang Besut supaya membantu pahlawan-pahlawan Pahang yang bersembunyi di daerah itu. Taktik diplomasi yang bijak itu menyelamafkan semua pejuang Pahang dan mengecewa-kan usaha ketua penjajah Pahang bernama Clifford itu. Clifford sentiasa curiga terhadap Tukku Paloh kerana dalam beberapa perundingan yang diadakan dengannya, pemimpin British itu percaya Tukku Paloh tidak berkata yang se-benarnya mengenai pemberontak-pemberontak. Kadangkala wakil-wakil British itu dipersendakan oleh Tukku Paloh.

Menurut cerita Syed Omar Abdul Kadir Al Idrus (cucu Tukku Paloh) , dalam satu pertemuan antara Tukku Paloh dan Clifford terjadi antara lain seperti berikut:

Clifford: Saya datang mahu mendapat kerjasama Tukku untuk menangkap pemberontak-pemberontak dari Pahang yang berada dalam negeri Terengganu.

Tukku Paloh: Siapa yang dimaksudkan? Kerana kami orang Islam tidak boleh menyimpan pemberontak dan penjahat-penjahat. Kalau ada penjahat tentu kami sudah tangkap dan mengenakan hukuman berdasarkan hukum Islam.

Clifford: Itu, Datuk Bahaman, Tuk Gajah, Mat Kilau dan pengikut-pengikut mereka melakukan banyak kacau dalam negeri Pahang. Sekarang mereka lari ke negeri ini.

Tukku Paloh: Orang-orang itu semua baik-baik, bukan pengacau, bukan pemberontak kerana mereka menuntut pembebasan daripada campurtangan kuasa luar dalam negeri mereka, dan sebagai orang-orang Islam mereka mesti menuntut hak itu.

Sebagai satu helah, Tukku Paloh membenarkan juga angkatan Clifford itu menyiasat di Paloh sama ada benar pahlawan-pahlawan Pahang itu bersembunyi di sana (ketika itu semua mereka sudah bersembunyi di tempat-tempat selamat).

Clifford masih tidak berpuas hati kerana pasukannya gagal menemui ‘pemberontak-pemberontak’ itu. Dia percaya mereka ada bersembunyi di kawasan rumah Tukku Paloh. Ini berdasarkan beberapa bukti yang dia sendiri perolehi semasa siasatan dibuat. Tetapi dia dan pasukannya tidak berdaya berbuat apa-apa walaupun berkali-kali berunding dengan Tukku Paloh. Sebab itu bagi Clifford, penghalang besar kepada usahanya untuk menangkap pahlawan-pahlawan Pahang itu ialah Tukku Paloh sendiri. Malah usaha terakhir Clifford meminta jasa baik Sultan supaya memaksa Tukku Paloh menyerahkan mereka itu juga gagal. Ini membuatkan dia sedar pengaruh Tukku Paloh begitu besar sekali di istana. Akhirnya Clifford mengambil keputusan meninggalkan Terengganu pada 17 Jun 1895.

Percubaan British untuk menjajah Terengganu bermula sejak awal abad ke-20. Gabenor Negeri-negeri Selat, Frank Swettenham, tanpa terlebih dahulu berunding, datang ke Terengganu pada tahun 1902 dan mengadap Sultan untuk mendapat persetujuan sultan mengenai satu rangka perjanji-an yang disediakan di London antara kerajaan British dan Siam. Tetapi perjanjian yang kononnya memberi pengiktirafan yang lebih jelas terhadap naungan kerajaan Siam ke atas Terengganu itu secara rasmi ditolak oleh kerajaan Terengganu. Sultan Zainal Abidin dan penasihat-penasihat baginda menyedari kesan daripada perjanjian itu dan nampak perancangan jauh kerajaan British yang beria-ia benar mempelopori perjanjian itu supaya ditandatangani. Sedangkan kerajaan Siam sentiasa menghormati pemerintahan Terengganu yang berdaulat.

Perkiraan itu ternyata berlaku pada 10 Mac 1909 bertempat di Bangkok di mana kerajaan British secara senyap menandatangani satu perjanjian baru dengan kerajaan Siam. Entah ganjaran apa yang diperolehi oleh kerajaan Siam, melalui perjanjian itu kerajaan Siam memindahkan (menyerahkan) segala hak naungan, perlindungan, pentadbiran, kawalan dan apa saja yang dipunyainya ke atas negeri-negeri Kelantan, Perlis, Kedah dan Terengganu serta pulau-pulau berhampiran. Dengan perjanjian baru itu bermakna Terengganu bulat-bulat duduk di bawah kekuasaan British seperti terkandung dalam butir-butir perjanjian pertama tajaan British yang kononnya untuk menjelaskan pengiktirafan terhadap naungan Siam itu. Sekali lagi kerajaan Terengganu tidak mengiktiraf dan menentang perjanjian berniat jahat itu. Malah pihak istana dan pembesar-pembesar negeri sangat marah dengan taktik halus British.

Tukku Paloh, yang sangat berpengaruh terhadap dasar luar Terengganu, memberi pandangannya mengenai cita-cita British yang berkehendakkan Terengganu dengan pertolongan Siam itu, dengan katanya antara lain:

“Dimaklumkan bahawa perkara ehwal treaty (perjanjian) yang dikehendaki oleh Inggeris dengan kebenaran Siam itu sangat besarlah pada paham paduka ayahanda (maksudnya beliau) waqiahnya dan sangatlah pada Seri Paduka anakanda Sultan Zainal Abidin akan akllahu al dafihi (telah menolong akan engkau oleh ALLAH SWT atas penolakannya) kerana sudah bersatu antara Siam dan Inggeris tetapi insya-ALLAH tiada sekali-kali. ALLAH SWT tasalitkan (beri kekuasaan-Nya) kuffar (orang kafir) atas Muslimin melainkan sebab tadyik (menghilangkan) mereka itu akan huquk (hak) syariat dan tiada bersungguh-sungguh mereka itu berpegang atas syariat yang mutahharah (undang-undang suci Islam) dan pemasukan ke dalam agama Islam akan barang yang dibenci oleh Rasulullah SAW. Maka wajiblah pada sekarang ini Seri Paduka Anakanda (Sultan) berkuat pada menzahirkan agama dan membatalkan segala mungkarat (kejahatan), jangan sekali tidak hirau…”

Walaupun usaha itu gagal, British terus menjalankan diplomasinya dalam berbagai bentuk rundingan. Antara pegawai yang mewakili British ialah W.L. Conlay. Dalam beberapa kali rundingan yang diadakan dengan pihak istana (tidak kurang dua kali), Sultan Zainal Abidin mengarahkan pihak British supaya berunding secara langsung dengan Tukku Paloh. Sultan berkata kepada wakil British, “Terengganu ini ada
tuannya, sila berunding dengan tuannya (yang dimaksudkan ialah Tukku Paloh).”

Rundingan pertama yang dijadualkan berlangsung British terpaksa dibatalkan oleh British kerana dikatakan kapal armada itu beberapa kali senget apabila Tukku Paloh menyengetkan serbannya. Ini menakutkan wakil-wakil British yang menganggap kejadian itu satu magic (sihir atau silap mata) sedangkan yang sebenarnya adalah karamah kurniaan ALLAH kepada Tukku Paloh. Ekoran itu, rundingan diadakan juga pada waktu lain dan kali ini di rumah Tukku Paloh. Untuk itu, Tukku Paloh meminjara beberapa buah kerusi bagi meraikan orang putih yang tidak pandai duduk bersila itu. Dengan duduk di atas kerusi, rundingan berjalan dengan panjang lebar dan antara lain wakil British memaklumkan bahawa pihaknya ingin mendapatkan tanah Terengganu dengan alasan membantu membangunkan dan memajukan negeri Terengganu. Dengan kata lain, dalam rundingan itu seolah-olahnya British hendak membantu memajukan Terengganu. Negeri Terengganu ketika itu berpenduduk sekitar 10,000 orang, kebanyakannya bekerja sebagai nelayan, tukang dan petani. Mereka diakui oleh Clifford sebagai “orang Melayu yang paling pandai dan paling rajin di Semenanjung Tanah Melayu”.

Tukku Paloh mempunyai pandangan yang jauh dan dapat membaca niat jahat wakil British yang mahu menguasai negeri Terengganu dan seterusnya menjajah. Lalu dengan selamba Tukku menjawab segala kehendak wakil British itu dengan penuh sindiran tanpa sedikit pun terpengaruh dengan ‘gula-gula’ yang diumpan oleh orang-orang putih itu. Dalam pertemuan inilah berlakunya kerusi yang diduduki oleh wakil-wakil British itu melekat seketika di punggung mereka seperti telah diceritakan pada awal lagi. Wakil-wakil British itu pulang dari rumah Tukku Paloh dengan hati yang berang bercampur takut akan kelebihan yang ada pada Tukku Paloh. Mereka gagal sama sekali untuk menguasai Terengganu menerusi diplomasi.

Tidak berapa lama selepas itu, beberapa buah armada British datang lagi ke persisiran pantai Kuala Terengganu. Tanpa memberi sebarang amaran, armada itu melepaskan tembakan meriam dan senapang ke arah pantai dan mengarah ke udara. Serangan yang bertujuan menggertak itu telah membunuh seekor kambing di Padang Hiliran. Orang ramai menjadi gempar dan cemas, dan sekali lagi Sultan Zainal Abidin menyerahkan urusan ini kepada Tukku Paloh. Lalu dengan tenang dan yakin Tukku Paloh bersama orang-orang kanannya termasuk Haji Abdul Rahman Limbong, Syeikh Ibrahim dan Tuk Kelam dan pengikut-pengikutnya yang lain meronda sepanjang pantai. Operasi rondaan, itu berjalan siang dan malam. Dikatakan ekoran dari itu, British tidak lagi membuat kacau, dan semua armadanya berundur. Mengikut laporan, angkatan perang British itu nampak ‘beribu-ribu’ pahlawan Terengganu’ lengkap dengan senjata bersiap sedia untuk melancarkan serangan balas. Sebab itulah mereka cabut lari. Demikian kehebatan perjuangan Tukku Paloh yang mempunyai karamah menentang British berhabis-habisan. Beliau berpegang kepada firman Allah SWT bermaksud: “Sesungguhnya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh. ” (Al Anbia: 105)

Beliau juga berpegang kepada falsafah: Perjuangan tidak kenal hidup atau mati. Dengan benteng iman dan taqwa yang kukuh pada diri Tukku Paloh itu, pihak British gagal menjajah Terengganu sehinggalah beliau kembali ke rahma-tullah pada tahun 1917, dan diikuti dengan kemangkatan Sultan Zainal Abidin IU pada tahun berikiitnya. Perginya ulama dan umara yang berganding bahu dalam pemerintahan. Dalam kesibukannya membantu pihak istana memerintah negeri Terengganu, Tukku Paloh diamanah pula mentadbir kawasan Paloh oleh Sultan Zainal Abidin. Dan dalam masa yang sama beliau diminta menjadi ri’ayah (pengawas) daerah Hulu Terengganu termasuk Kuala Berang hingga,ke Kampung Cabang Tiga yang jaraknya dari hujurig ke hujung kira-kira 50km. Ada juga maklumat yang mengatakan pihak istana meminta Tukku Paloh mengawasi kawasan Kuala Nerus. Di Paloh, beliau mempunyai kuasa penuh sehingga kerana itu mendapat gelaran istimewa ‘Tukku Paloh’. Beliau menyusun struktur pentadbiran yang sesuai dengan keperlu-an semasa bagi memimpin pengikut dan rakyatnya kepada satu cita-cita murni Islam. Untuk itu, beliau menggunakan kaedah tarbiah, ta’lim serta bimbingan rohani dan kuatkuasa undang-undang yang melibatkan pembantu-pembantunya yang amanah.

Biasanya urusan-urusan kemasyarakatan dibincangkan secara syura di kalangan orang kanan dan pengikut setianya. Perbincangan atau mesyuarat itu selalunya diadakan di balai yang didirikan oleh Tukku Paloh bersebelahan rumahnya. Balai ini juga dijadikan tempat beliau mendirikan sembahyang jemaah lima waktu bersama orang ramai. Dalam hal kedudukan raja yang memerintah, Perlembagaan Terengganu 1911, antara lain menyebut: “…Tetapi disyaratkan yang dipilih dan dijadikan raja itu seorang lelaki yang cukup umurnya dan sempurna akal, beragama Islam, berbangsa Melayu Terengganu dan daripda darah daging yang merdeka lagi diakui dengan sah dan halal serta baik pengetahuannya, boleh membaca dan menyurat (menulis) bahasanya dan mem-punyai tabiat perangai yang baik dan tingkah laku yang terpuji.” Dan raja akan hilang kelayakan menjadi raja sebagaimana tersebut pada fasal ketiga perlembagaan itu yang berbunyi: “…Jika ada kecacatan yang besar yang menyalahi sifat raja seperti gila, buta, bisu atau ada sifat kekejian yang tiada dibenarkan oleh syarak (hukum Allah) menjadi raja.”

Perlembagaan ini digubal pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin di bawah nasihat utamanya Tukku Paloh iaitu pada tahun 1911. Ianya bertepatan dengan kehendak Islam di mana tiada siapa yang boleh mengatasi undang-undang ALLAH SWT.

“Tukku mengajar di surau ini juga,” cerita Sayid Abdul Aziz, sambil menunjuk balai serbaguna yang dibangunkan oleh Tukku Paloh itu. Menurutnya, semasa hayat Tukku Paloh, sekurang-kurangnya dua kali Nabi Khidir a.s. datang berjemaah Subuh di balai tersebut. Peristiwa pertama berlaku semasa Tukku Paloh tidak sembahyang berjemaah bersama dengan murid-muridnya. Para ahli jemaah mendapati ada orang asing yang berserban jubah menjadi imam pada pagi itu. Selesai sembahyang, orang yang tidak dikenali itu duduk bersandar di tiang hujung di sebelah kanan balai itu sambil berwirid sebelum beliau pergi menghilangkan diri.

Tukku Paloh tahu hal ini, lalu berkata kepada murid-murid-nya, “Kamu tahu siapa yang jadi imam tadi?” Masing-masing diam dan Tukku Paloh terus berkata, “Beruntunglah kamu, yang menjadi imam itu tadi ialah Nabi Khidir a.s. Dapat pahala besarlah kamu.”

Kali kedua, Nabi Khidir a.s. datang berjemaah Subuh di balai itu ketika Tukku Paloh menjadi imam. Selain balai itu, Tukku Paloh mendiriRan sebuah masjid kira-kira 10 rantai dari rumahnya sebagai tempat mendirikan sembahyang Jumaat dan sembahyang lima waktu. Masjid itu juga menjadi tempat murid-muridnya belajar ilmu dan menga-dakan perhimpunan besar bagi merayakan satu-satu majlis yang berkaitan agama. Di dua pusat inilah (balai dan masjid) Tukku Paloh memimpin dan membimbing orang ramai dengan ilmu, amal dan tarbiah rohani. Beliau mengajar ilmu-ilmu tauhid, feqah, tasawuf, tafsir, Hadis dan juga nahu saraf.

Beliau sangat menekankan ilmu dan amalan tasawuf di kalangan pengikut-pengikutnya. Malah Tukku Paloh mengarang kitab Maarijulah fan (tangga orang-orang yang sangat dahaga untuk naik kepada hakikat-hakikat pengenalan). Kitab. ini membicarakan persoalan hati bagi mereka yang ber-mujahadah sehingga menjadi seorang yang bertakarrub ilallah. Di antara anak murid dan pengikut Tukku Paloh yang terkenal ialah Haji Abdul Rahman Limbong, Haji Mat Shafie Losong, Tuk Kelam, Tuk Janggut, Datuk Bahaman, Mat Kilau, Haji Wan Embong Paloh, Haji Abdullah Chik Fatani, Tuk Gajah, dan Sultan Zainal Abidin HI sendiri.

Baginda sultan sering berulang-alik dari istananya ke Paloh untuk belajar ilmu dan berbincang mengenai berbagai perkara dengan Tukku Paloh. Baginda mempunyai minat dan kebolehan yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan. Se-lain Tukku Paloh, guru-guru baginda yang lain termasuklah Hj. Wan Abdullah Mohd Amin (Tuk Syeikh Duyung), Hj. Wan Mohd bin Abdullah, Hj. Wan Abdul Latif bin Abdullah Losong dan lain-lain. Baginda juga boleh berbahasa Arab hasil tunjuk ajar seorang guru khas, Habib Umar. Berkat dari kesungguhan menuntut ilmu dan sikap memuliakan ulama, Sultan Zainal Abidin III diakui oleh rakyat sebagai raja yang alim dan kuat berpegang kepada ajar an Islam. Hingga dikatakan, semasa pemerintahan baginda, susah untuk dicari seorang yang sudah sampai umur yang be-lum khatam Al Quran di Terengganu.

Selain itu, Tukku Paloh juga menjadi guru kepada anak-anaknya sendiri seperti Sayid Abu Bakar (Tukku Tuan Embong), Sayid Akil (Engku Sri Wijaya) dan Sayid Sagof (Engku Kelana). Kesemua mereka diakui sebagai ulama. Dari hari ke hari, anak-anak murid dan pengikut Tukku Paloh semakin ramai. Mereka datang dari merata tempat. Paling ramai ialah orang-orang Pahang yang kebanyakan mereka adalah pahlawan-pahlawan yang menentang British. Di Paloh, mereka dilindungi di bawah pentadbiran yang adil, makmur, tegas berdasarkan hukum ALLAH SWT dan tidak bertolak-ansur dengan pihak British. Untuk memastikan kawasan Paloh terhindar daripada segala perbuatan maksiat dan pelanggaran undang-undang serta untuk menjaga daripada pencerobohan luar maka Tukku Paloh” menubuhkan pasukan penguatkuasa yang terkenal dengan nama Budak Raja. Pasukan ini bertanggungjawab menjaga keamanan sepertimana peranan polis pada hari ini.

Dalam pada itu Tukku suka keluar malam-malam untuk memastikan keselamatan dan kebajikan orang ramai terjamin. “Pada masa tertentu, Tukku keluar malam berselubung kepala dengan kain, meninjau-ninjau tentang kehidupan orang ramai. Jika ada perkara-perkara tak elok, besok Tukku suruh budak raja pergi tangkap,” cerita Sayid Abdul Aziz. Sikap ini memperlihatkan betapa bertanggungjawabnya Tukku Paloh terhadap keselamatan dan kebajikan anak-anak buahnya seperti berlaku pada khalifah Umar Al Khattab r.a. Bagaimanapun, kata Sayid Abdul Aziz, kawasan Paloh sentiasa terpelihara daripada gangguan penjahat luar dan dalam. “Musuh dan penjahat tidak dapat masuk ke Paloh dan kalau ada barang curi yang hendak dibawa keluar pun tak boleh.” Sayid Abdul Aziz tidak menolak kemungkinan adanya ‘pagar kerohanian’ yang dibuat oleh Tukku Paloh selain daripada kawalan Budak Raja umpamanya, dan pagar lahir.

Tukku Paloh mempunyai mahkamah keadilan sendiri di Paloh. Beliau mendapat mandat daripada sultan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan besar dan mengadili penjahat-penjahat di kawasan pentadbirannya. Mana-mana keputusan yang di-buatnya dikira muktamad tanpa perlu merujuk kepada sultan. Dan’ dalam soal ini beliau ada mengeluarkan surat kuasa terhadap pembawa ajaran sesat. Dengan itu tidak hairanlah nama Tukku Paloh semakin masyhur sebagai seorang ulama yang berwibawa dalam pemerintahan. Beliau berjaya membangunkan Paloh menjadi kawasan yang aman damai dan mempunyai kekuatan yang di-geruni musuh. Selain itu, Tukku Paloh juga dilantik sebagai Syeikhul Ulama, jawatan tertinggi dalam urusan agama. Jawatan ini pernah disandang oleh ayahnya Tukku Tuan Besar.

Tukku Paloh adalah juga ahli Majlis Mesyuarat Negeri. Bagaimanapun, Tukku Paloh lebih banyak membuat perhu-bungan peribadi dengan Sultan Zainal Abidin III daripada perhubungan secara rasmi. Eratnya hubungan Tukku Paloh dengan Sultan amat nyata di mana salah seorang isterinya, Tengku Mandak, ialah kekanda kepada Sultan Zainal Abidin. Baginda Sultan pula telah menyerahkan anaknya Tengku Sulaiman kepada Tukku Paloh untuk dijadikan anak angkat dan dididik dengan didikan agama. Tengku Sulaiman ini kemudiannya menjadi Sultan Terengganu yang ke-13, memerintah antara 1920-1942.

Demikianlah, setelah begitu lama menyumbang bakti kepada rakyat dan kerajaan maka Tukku Paloh jatuh uzur dan kembali ke rahmatullah menemui kekasihnya ALLAH SWT Pada 1 Zulhijjah 1336 Hijrah (1917) dalam usia 100 tahun. Setahun kemudian Sultan Zainal Abidin m pula mangkat iaitu pada 1 November 1918. Jenazah Tukku Paloh dimaqamkan di satu kawasan tinggi di Paloh. Beliau meninggalkan lebih 23 orang anak daripada lapan orang isteri. Semasa hayatnya Tukku Paloh sentiasa saja beristeri empat orang secara poligami, dan isterinya seramai 13 orang kesemuanya.

Selaku pembawa amalan Tareqat Naqsyabandiah, Tukku Paloh terkenal sebagai seorang yang kuat mengamalkan zikir-zikir yang disusun oleh Syeikh Bahauddin, Syeikhul Tareqat Naqsyabandiah yang susur galumya sampai kepada Sayidina Abu Bakar As Siddiq (maqam Syeikh Bahauddin terdapat di Uzbekistan). Begitu pula dengan amalan ibadah yang asas seperti sembahyang, puasa dan membaca Al Quran dan lam-lain amalan sunat. Dengan kata lain Tukku Paloh sangat wa-rak dan berhalus dalam beribadah.

Selain mengamalkan zikir Tareqat Naqsyabandiah secara istiqamah, Tukku Paloh juga mengamalkan dan mengembangkan amalan yang disusun oleh ayahnya Tukku Tuan Besar iaitu ‘Syahadat Tukku’. Amalan ini terus popular dan hingga kini masih diamalkan di banyak tempat di Terengganu secara jemaah dan bersendirian.

Syahadat Tukku yang diamalkan dengan suara zihar (nyaring) itu ialah maksudnya:

Aku ketahui dan aku iktiqad dengan hatiku dan aku nyatakan bagi yang lain daripadaku akan bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan ALLAH jua yang kaya la daripada tiap-tiap yang lain daripada-Nya dan herkehehdak oleh tiap-tiap yang lain itu kepada-Nya. Lagi yang bersifat la dengan tiap-tiap sifat kesempurnaan yang maha suci la daripada segala kekurangan dan daripada barang yang terlintas la di dalam segala hati daripada barang yang tiada patut la bagi-Nya lagi tiada beristeri dan tiada anak dan tiada yang memperanakkan bagi-Nya. Dan tiada menyamai la pada zat-Nya dan sifat-Nya dan afal-Nya akan seseorang maka Ialah Tuhan yang menjadi la akan segala makhluk yang ‘ulvi-Nya dan syufli-Nya lagi ketunggalan la pada mengadakan dan mentiadakan dengan kekerasan takluk qud-rat dan iradat-Nya maka terserahlah segala kainat intsemuanya pada bawah perintahNya dan tiadalah jenis ‘itirat bagi seorang jua pun akan kehendak-Nya. Dan aku ketahui dan aku iktiqad dengan hatiku dan aku nyatakan bagi yang lain daripadaku akan bahawa sungguhnya penghulu kita Nabi Muhammad anak Abdullah itu hamba Allah dan pesuruh-Nya kepada sekalian makhluk lagi sangat benar ia pada tiap-tiap barang yang ia khabarkan dengan dia daripada Tuhannya. Maka wajiblah atas tiap-tiap makhluk itu benar akan dia dan mengikut akan dia dan hdram atas mereka itu mendusta akan dia atau me-nyalahi akan dia maka barang siapa yang mendusta ia akan dia maka orang itu zalim ia lagi kafir ia, dan barang siapa yang menyalahi ia akan dia maka orang itu derhaka ia lagi binasa ia. Mudah-mudahan memberi taufiq akan kita oleh Allah bagi sempuma mengikut akan dia dan mengumia ia bagi kita akan sempuma berpegang dengan jalannya dan menjadi ia akan kita akan setengah daripada orang yang menghidup ia akan segala hukum syariat-Nya dan memati Ia akan kita atas keagamaan-Nya dan menghimpun ia akan kita serta perhimpunannya. Demikian lagi segala yang memperanak akan kita dan ahli kita dan segala saudara kita dan yang kasih Ia akan kita dan segala sahabat kita daripada segala orang yang Muslimin. Amin.

Syahadat Tukku ini diwariskan kepada murid-muridnya. Pengikut kanan beliau Haji Abdul Rahman Limbong mengembangkan amalan ini kepada murid-murid dan anak cucunya pula. Ini diakui oleh Pak Cik Ali Haji Yusof, cicit Haji Abdul Rahman Limbong. Beliau berkata, “Saya dapat mengamalkan syahadat ini semasa datuk (menantu Haji Abdul Rahman Limbong) dan ayah saya lagi.”

Menurut beliau, amalan itu masih kekal sebagaimana dilakukan pada zaman Hj. Abdul Rahman Limbong iaitu bermula dengan ratib Al Hadad dan diakhiri dengan Syahadat Tukku, sekali-sekala disusuli dengan burdah pula. Amalan Syahadat Tukku ini pernah menjadi kontroversi apabila salah seorang pembawa amalan ini dihadap ke mahkamah kerana dituduh sesat. Peristiwa ini berlaku kepada Tuan Haji Hussein Haji Mat yang mengembangkan amalan ini di Kampung Gong Ubi Keling, Besut di mana dalam masa yang sing-kat saja sudah meriah dengan ramai pengikut. Tuan Haji Hussein tidak menolak kemungkinan tindakan yang dikenakan ke atas dirinya itu didorong oleh iri hati dan hasad dengki orang-orang tertentu kerana surau yang baru beliau bangunkan lebih meriah berbanding dengan surau-surau lain. Mereka mendesak pihak berkuasa mengambil tindakan ke atas beliau (Haji Hussein) atas alasan yang batil dan fitnah.

Mengenang peristiwa pahit yang berlaku pada sekitar tahun 1950 itu, Haji Hussein bercerita: ”Hampir seribu orang yang berada di Mahkamah Kadhi Besut untuk mendengar keputusan perbicaraan saya yang dituduh sesat kerana mengamalkan Syahadat Tukku ini.”

Orang ramai nampak cemas kerana peristiwa ini besar dan kali pertama berlaku di Besut. Menurut Haji Hussein, sewak-tu perbicaraan, beliau disuruh membaca segala amalan yang diamalkannya selama ini.

“Saya pun membaca habis satu persatu bermula dengan ratib Al Hadad, Burdah dan akhirnya Syahadat Tukku. Selesai saya membaca semuanya, Hakim Cik Awing yang juga Kadhi Besut itu berkata: “Apa yang Tuan Haji baca itu ada pada saya.” Rupa-rupanya Tuan Hakim Cik Awing juga mengamalkan ratib Al Hadad dan Syahadat Tukku.

“Kemudian saya dibebaskan tanpa sebarang tindakan yang dikenakan malah nampaknya tuan hakim itu pula yang se-olah-olahnya menggalakkan amalan ini diteruskan. Mende-ngarkan keputusan yang benar itu maka orang ramai di luar mahkamah turut bersyukur dan ada yang menitiskan air mata gembira,” cerita Haji Hussein lagi. Sehingga kini Haji Hussein terus mengamalkan Syahadat Tukku ini bersama-sama sahabat-sahabatnya, amalan yang pada setengah orang jahil dikatakan ‘syahadat tambahan’.

Syahadat Tukku yang disusun oleh wali ALLAH itu terus popular di kalangan orang yang arif di banyak tempat dalam negeri Terengganu. Amalan yang menjelaskan unsur-unsur tauhid dan pembersihan hati yang amat diperlukan oleh seorang hamba terhadap Tuhannya, ALLAH SWT.

Tentang rupa paras Tukku Paloh, cucunya Sayid Abdul Aziz berkata Tukku Paloh berjanggut tanpa berjambang. Orangnya tidak tinggi tetapi badannya berisi. Rupa kasar itu adalah gambaran yang dilihat dalam mimpinya. “Beberapa kali saya bermimpi Tuk Aki saya,” cerita Sayid Abdul Aziz. Kenyataan mengenai rupa paras Tukku Paloh yang dilihat dalam mimpi itu diakui oleh murid beliau yang masih hidup iaitu Pak Cha yang berumur lebih 90 tahun. “Dia rendah,” kata Pak Cha sambil menunjuk salah seorang yang berada di tepinya yang berbadan agak gemuk tetapi tidak tinggi sangat.

Sumber: http://kisahteladan.info/wali/tukku-paloh.html
http://perjalananmukmin.wordpress.com/2012/08/27/kisah-wali/

TAFAKUR NAFAS SUTERA

Salam sejahtera, atas permintaan ramai maka disini saya cuba menjelaskan sedikit mengenai bab “bertafakur melalui olahan pernafasan serta meraih karomah diri”, baiklah adapun yang dimaksudkan dengan bertafakur melalui olahan pernafasan ialah nafas tenang “nafas sutera”, nafas ini hendaklah diatur dengan baik agar seluruh jiwa dan raga kita menjadi tenang, jika nafas tidak tenang buat apa pun takkan jadi tenang, contoh nak solat, kalau buat dalam keadaan tergesa-gesa, adakah ia menjadi tenang..? Tidak..ini harus di perhatikan ia menjadi punca utama untuk mencapai matlamat dalam tafakur, kerana para sufi dan auliya Allah sentiasa bertafakur mencari ketenangan batin dalam menghalakan seluruh jiwa dan raganya kepada Allah semata-mata.

Maka dengan itu jika kita perhatikan raut wajah para sufi dan auliya Allah senantiasa tenang dan redha akan ketentuan dari Allah S.W.T tak kira walau dalam keadaan apa jua sekalipun. Barangsiapa dapat miliki ketenangan batin ini maka ianya telah meraih karomah diri yaitu “ Duduk dalam kelakuan Tuhan”, setiap apa yang dilakukan ia tidak lagi Nampak yang dirinya melakukan itu dan ini, yang pada dirinya itu hanyalah sebagai tempat kenyataan Tuhan sahaja, sebaliknya segala apa yang datang disebalik gerak dan lakuan itu yang dipandang hanya Allah semata-mata, ingat…!!! Kita bukan Allah, tapi merupakan tempat kenyataan wujud  Allah.

Baiklah tafakur ini terbahagi kepada beberapa cara, namun itu boleh dipilih cara mana yang anda sukai, namun cara saya amat mudah, kongsepnya ialah anda hanya perlu melatih diri menyatukan fikiran dan perasaan menjadi satu sehingga terwujud diri yang kosong,  yang tiada apa-apa, setelah berjaya  fikiran dan perasaan menjadi kosong namun itu juga harus dilepaskan juga sehingga seolah-olah menjadi orang yang papa kedana,  kembali ke hakikat asal manusia “ Hakikat Insan” yang tiada apa-apa, lebih kepada meminta-minta kepada tuan-nya. Sebenarnya keadaan diri kita sentiasa meminta-minta dan mengetuk-ngetuk pintu dimalam hari, pada keadaan kita sentiasa dalam kesaksian yang nyata, kesaksian bahawa segalanya akibat dan musabab adalah mutlak hak-Nya, pada diri kita ini hanyalah lakuan-Nya sahaja, jika lari dari aspek ini maka terbatal sahadah, harus bertaubat dan mengulangi sahadah semula.

Di tahap ini kebiasaannya apa yang diniatkan atau dihajatkan in sya Allah mudah tercapai diantara cepat atau lambat, kebanyakan-nya cukup apabila hanya terdetik dihati sahaja, ini berdasarkan apa yang saya sendiri lalui, bukan mengambil pengalaman dari orang yang pernah tafakur dengan cara ini.

Tetapi proses ini perlu secara berdepan agar lebih mudah difahami, jika anda telah mempunyai pegalaman dalam bidang ini in sya Allah anda mudah faham,  kerana ianya perlu melalui proses penyucian jiwa, rohani dan akal, bagi melancarkan proses tafakur ini, tidak apa yang perlu diwiridkan hanya tafakur dan …………………….maka dengan cara ini anda akan lebih mencapai tingkatan konsentrasi tingkat tinggi.

Dalam proses ini anda perlu “Mikraj” kepada Allah, sepertimana juga dalam solat, iaitu “ Naik meninggalkan segala sesuatu”, bagian dari nafsu dibungkus elok-elok dan letak tepi dahulu,  jika dalam tafakur anda naik dengan nafsu maka anda tidak akan berjaya sampai bila-bila, ia sentiasa menarik anda kepada dunia yang sentiasa mempamerkan keindahan-nya.

Sesiapa yang berminat untuk mempelajari kaedah ini anda bolehlah menghubungi saya melalui email yang tertera, sebelum itu  saya menetapkan sedikit maharnya sebanyak RM 50.00 bagi tujuan penyelarasan dan akan memberi bimbingan kepada anda sehingga anda benar-benar memahami kongsep tafakur ni. Hubungi sekarang.

http://perjalananmukmin.wordpress.com/2014/10/19/tafakur-nafas-sutera/

Jumaat, 10 Oktober 2014

KaTa-KaTa HiKmAT ImAm MaZhAb

Imam mazhab larang taklid buta

Kata-kata: Imam Malik bin Anas (mazhab Maliki/guru imam As-Syafie)
“Tiap-tiap orang boleh diambil perkataannya dan ditolak melainkan perkataan yang mempunyai kubur ini (sambil beliau menunjuk ke arah makam Nabi s.a.w).”

Sesungguhnya aku ini manusia yang boleh jadi benar dan boleh jadi salah, maka dari itu, bandingkan perkataanku kepada Kitab dan sunnah.”

“Tidak tiap-tiap perkataan yang dikatakan oleh seseorang sekalipun dia mempunyai kelebihan harus diturut perkataannya.”

“Sesungguhnya kau ini tidak lain melainkan manusia, boleh jadi aku salah dan boleh jadi aku benar. Maka dari itu, hendaklah kamu memerhatikan pendapatku. Tiap-tiap yang sesuai dengan kitab Allah dan sunnah, kamu ambillah dia dan tiap-tiap yang tidak sesuai dengan kitab dan sunnah, kamu tinggalkanlah dia.”

Harun Ar-Rasyid hendak memerintahkan orang ramai supaya mengikut mazhab Imam Malik, tetapi Imam Malik menentang keras perintah tersebut.

Imam Malik pernah berpesan kepada Ibn Wahbin:
“Hai Abdullah, apa-apa yang telah engkau ketahui, maka katakanlah ia dan ambillah alasan dengannya dan apa-apa yang belum engkau ketahui, maka hendaklah engkau diam daripadanya dan jauhkanlah diri engkau bertaklid kepada manusia dengan rantai buruk.”

Imam Abu Hanifah (mazhab Hanafi)

“Tidak halal bagi seseorang berkata dengan perkataan kami hinga dia mengetahui dari mana kami mengatakannya.”

“Haram atas sesiapa yang belum mengetahui dalil fatwaku bahawa dia berfatwa dengan perkataanku.”

“Jika perkataanku menyalahi Kitab Allah dan khabar Rasul, maka kamu tinggalkanlah perkataanku itu.”

Dalam kitabnya Raudhah Al-Ulama:
“Bahwasanya Abu Hanifah pernah ditanya: “Apakah engkau berkata satu perkataan padahal Kitab Allah menyalahkannya, bagaimana? Kata beliau: “Tinggalkanlah perkataanku dan ikutilah Kitab Allah.” Maka beliau ditanya lagi: “ Apabila khabar Rasul s.a.w. (hadis) menyalahkannya?” Kata beliau: “Tingalkanlah perkataanku dan ikutlah khabar Rasul s.a.w.” Kemudian beliau bertanya lagi: “Apabila perkataan sahabat menyalahkannya.” Beliau berkata: “Tinggalkan perkataanku dan ikutlah perkataan sahabat itu.”

Apabila beliau ditanya tentang sesuatu fatwa tertentu:
“Ini pendapat Nu’man bin Thabit iaitu dari beliau dan dia sebaik-baik yang telah kami pertimbangkan, maka dari itu barangsiapa yang datang dengan pendapat yang lebih baik daripadanya, maka yang lebih utama itu benar.”

Imam Ahmad bin Hambal (mazhab Hambali/anak murid imam As-Syafie)

“Salah satu tanda kekurangan pengertian seseorang ialah bertaqlid kepada orang lain tentang agamanya.”

“Janganlah engkau bertaklid kepada seseorang tentang agamamu.”

“Hendaklah kamu memerhatikan tentang urusan agamamu kerana sesungguhnya taklid kepada yang lain selain kepada yang maksum (Nabi s.a.w) itu tercela dan padanya membutakan bagi kecerdikan pandangan.”

“Janganlah kamu bertaklid kepada orang-orang tentang agamamu kerana sesungguhnya mereka itu tidak akan selamat bahawa mereka itu bersalah.”

“Janganlah engkau bertaklid tentang agamamu kepada seseorang dari mereka itu, apa yang datang dari Nabi s.a.w dan sahabatnya maka ambillah ia.”

Seorang sahabatnya meminta pertimbangan tentang dia akan bertaklid kepada salah seorang alim besar di zamannya.Imam Ahmad berkata:

“Janganlah kamu bertaklid kepadanya, jangan kamu bertaklid pada Malik, jangan kepada Al-Auza’i, jangan kepada At-Thauri dan jangan pula kepada yang lain-lainya, tetapi ambillah olehmu hukum-hukum dari mana mereka itu mengambil.”

Imam Abu Daud pernah berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal:
“Imam Al-Auza’i lebih menurut sunnah daripada imam Malik.”

Imam Muhammad bin Idris /Imam Shafie (mazhab As-Shafie)

“Apa yang telah aku katakan padahal Nabi s.a.w sungguh telah menyatakan dengan menyalahi perkataanku, maka apa yang telah sah dari hadis Nabi s.a.w lebih utama dan janganlah kamu bertaklid kepadaku.”

“Tiap-tiap masalah yang sah padanya khabar (hadis) dari Rasulullah saw dengan menyalahi apa yang telah aku katakan, maka aku akan rujuk (kembali mengikut) kepadanya di waktu aku hidup dan sesudah aku mati.”

“Apabila kamu dapati dalam kitabku sesuatu yang menyalahi sunnah Rasulullah s.a.w., maka hendaklah kamu berkata dengan sunnah Rasulullah s.a.w. dan tinggalkanlah perkataanku.”

“Apabila telah sah hadis, maka kamu lemparlah perkataanku ke dinding.”

“Tiap-tiap yang menyalahi perintah Rasulullah saw, jatuhlah ia dan tidak akan tegak besertanya pendapat dan tidak pula perbandingan.”

“Hadis Rasulullah saw itu mencukupi dengan sendirinya jika telah sah.”

“Misal orang yang menuntut ilmu dengan tiada hujah itu bagaikan pemungut kayu pada malam hari. Dia membawa seberkas kayu api padahal di dalamnya ada seekor ular jahat yang akan memagutnya sedang dia tidak tahu.”

“Apabila kamu mendapati perkataanku bersalahan dengan perkataan Rasulullah saw, maka lemparkanlah perkataanku ke tepi dinding.”

“Tiada perkataan bagi seseorang beserta sunnah Rasulullah s.a.w.”

“Telah sepakat manusia bahawa barangsiapa yang ternyata baginya satu sunnah dari Rasulullah s.a.w. tidaklah dia meninggalkannya kerana perkataan seseorang dari manusia.”

“Apabila kamu dapati dalam kitabku menyalahi sunnah Rasulullah saw, maka hendaklah kamu berkata dengan sunnah Rasulullah lalu tinggalkanlah perkataanku.”

“Apabila kamu mendapati satu sunnah bagi Rasulullah, maka hendaklah kamu mengikutinya dan janganlah kamu berpaling kepada perkataan seseorang.”

“Apabila kamu telah mendapati satu sunnah Muhammad Rasulullah s.a.w. yang menyalahi perkataanku, maka sesungguhnya aku berkata dengannya.”

“Apabila telah sah hadis menyalahi perkataanku, maka lemparkanlah perkataanku ke belakang dinding dan kerjakanlah olehmu dengan hadis yang kukuh kuat.”

“Tiap-tiap hadis dari Nabi s.a.w, maka ia perkataanku walaupun kamu tidak mendengarnya dariku.”

“Apabila telah sah hadis, maka itulah mazhabku.”

“Apabila telah sah khabar yang menyalahi perkataanku, maka hendaklah kamu mengikut khabar itu dan ketahuilah olehmu bahawa sesungguhnya itulah mazhabku.”

Beliau pernah berpesan kepada Abu Ishaq:
“Hai Abu Ishaq, janganlah kamu bertaklid kepadaku pada tiap-tiap apa yang aku katakan dan perhatikanlah yang demikian untuk dirimu sendiri kerana ia itu agama.”

Imam Ar-Rabi meriwayatkan dari imam As-Syafie:
“Barang apa yang datang dari sunnah Rasulullah s.a.w. dengan menyalahi mazhabku(pendirianku), maka tinggalkanlah mazhabku kerana sesungguhnya yang demikian itulah mazhabku.”

Imam Ar-Rabi meriwayatkan dari imam As-Syafie:
“Tiap-tiap masalah yang pernah kubicarakan padahal khabar(hadis) tentang masalah itu dari Nabi s.a.w di sisi ahli riwayat dengan menyalahi apa yang telah aku katakan, maka aku akan kembali kepadanya sama ada di kala aku masih hidup mahupun sesudah aku mati.”

Kata Imam Al-Humaidi (Guru Imam Al-Bukhari):
“Seseorang lelaki bertanya kepada imam As-Syafie pada suatu masalah, maka beliau memberi fatwa kepadanya dan berkata: “Nabi s.a.w pernah bersabda begini dan begini.” Maka orang itu berkata: “Apakah engkau juga berkata begini, ya Abi Abdillah?” Imam As-Syafie berkata: “Apakah kamu melihat di tengah-tengah tubuhku memakai tali zunnar? Apakah kamu melihat aku baru keluar dari gereja? Aku berkata Nabi s.a.w telah bersabda dan kamu berkata kepadaku: “Apakah engkau juga berkata begitu? Apakah aku meriwayatkan dari Nabi s.a.w dan aku tidak berkata dengannya.?

Diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi:
Pada suatu hari, ada seorang lelaki berkata kepada imam As-Syafie dan dia meriwayatkan satu hadis lalu berkata: “Apakah engkau mengambil hadis ini?” Pada masa itu imam As-Syafie berkata:
“Apabila telah diriwayatkan orang kepadaku dari Rasulullah s.a.w. satu hadis sahih lalu aku tidak mengambil hadis itu, maka aku nyatakan kepadamu bahawa akalku sudah lenyap.”

Kata imam Ahmad bin Hambal(salah seorang murid dan sahabat imam As-Syafie):
“Adalah sebagus-bagus tindakan imam As-Syafie menurut pendapatku ialah apabila beliau mendengar yang tidak ada padanya, beliau lalu berkata dengan hadis itu dan meninggalkan perkataannya.”